Kamis, 03 Mei 2018

Panca Jangka Pondok Pesantren Modern As-Salam




Masyarakat mulai merasakan manfaat dan buah pendidikan Pondok Pesantren Modern As-Salam. Dari hari ke hari, perhatian masyarakat bertambah besar, keraguan hilang, kepercayaan timbul. Buktinya, mulai ada santri yang datang dari jauh, dari luar kota.
Perhatian masyarakat yang mulai meningkat ini menandakan bahwa Pondok Pesantren Modern As-Salam dengan usahanya itu sangat dibutuhkan oleh mereka.
Inilah yang memberi dorongan kepada pengasuh pondok, guru, dan keluarga besar As-Salam untuk berusaha memperbaiki mutu pendidikan. Pembangunan yang sudah direncanakan dengan matang dalam berbagai bidang, baik moril, material, ideal, spiritual, semua harus ditingkatkan.
Rencana pengembangan di Pondok Pesantren Modern As-Salam dirumuskan dalam Panca Jangka yang menjadi program kerja pondok. Adapun Panca Jangka itu meliputi bidang-bidang berikut ini:
1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Pembentukan Kader-Kader
3. Pembangunan Gedung-Gedung
4. Pembentukan Khizanatullah atau Perluasan Wakaf.
5. Kesejahteraan Keluarga Pondok

1. Pendidikan dan Pengajaran
Yang dimaksud dengan jangka ini adalah berusaha dengan sepenuh tenaga, mencurahkan segenap pikiran, memusatkan segenap kekuatan ke arah kesempurnaan. Pendidikan pengajaran, bimbingan, serta asuhan sampai meliputi kesempurnaan organisasi pemudanya.
Meski hasil-hasil yang telah lampau menunjukkan hasil yang baik, tetapi tradisi yang baik ini harus dipertahankan sambil terus melakukan perbaikan dan penambahan menuju kesempurnaan. Dalam mengemban kepercayaan dari masyarakat inilah terasa berat tanggung jawabnya, baik terhadap masyarakat sendiri atau di hadapan Allah SWT.

2. Pembentukan Kader-Kader
Riwayat timbul tenggelamnya suatu usaha, lebih-lebih riwayat hidup matinya pondok pesantren di Tanah Air kita, memberikan pelajaran penting bagi kita.
Sesuatu usaha, seperti lembaga pendidikan pondok pesantren yang mempunyai jangka panjang, maka mempersiapkan pembentukan kader harus menjadi perhatian khusus, menjadi pemikiran sejak awal pendirian lembaga tersebut.
Pondok yang bagaimana pun masyhurnya ataupun majunya, pada suatu ketika ia akan menjadi mundur sehari demi sehari, dan kadang-kadang menjadi hilang lenyap, dengan hanya meninggalkan riwayat karena pendiri (kyai) pondok itu meninggal dunia. Karena tidak ada persiapan yang sudah tersedia sejak semula untuk melanjutkan usaha itu, maka demikianlah jadinya pondok-pondok itu, hanya seumur seorang kyai saja.
Untuk itu, Pondok Pesantren Modern As-Salam membentuk kader-kader yang akan melanjutkan cita-cita Pondok Pesantren Modern As-Salam dengan jalan dididik sendiri di As-Salam atau mengirimkan pemuda-pemudanya untuk menambah serta memperdalam ilmu pengetahuan dan pengalaman di lembaga lain. Mereka kelak menggantikan ketika generasi tua mengundurkan diri karena uzur, tua, dan lain sebagainya.

3. Pembangunan Gedung-Gedung
Untuk membangun fasilitas gedung butuh dana yang tidak sedikit. Karena itu, butuh tenaga dan pikiran ekstra untuk mewujudkannya. Saat ini sarana dan prasarana di Pondok Pesantren Modern As-Salam masih sangat minim, baru ada 3 gedung kelas, 3 ruang asrama putra, dan 2 ruang asrama putri, dan 1 kantor sekaligus sebagai ruang guru.
Bersyukur ketika buku ini ditulis Pondok Pesantren Modern As-Salam sudah menyelesaikan pembangunan Masjid Nurus Salam sebagai pusat ibadah dan kegiatan santri. Selanjutnya, sangat urgen Pondok Pesantren Modern As-Salam memikirkan sarana pergedungan sebagai berikut:
1.            Gedung kelas untuk MA Grafika As-Salam karena selama ini masih memakai kelas darurat.
2.            Gedung asrama bagi santri, terutama santri putri karena asrama yang ada sekarang masih jauh dari kata mencukupi.
3.            Gedung perpustakaan dan fasilitas di dalamnya, seperti buku, rak buku, dan komputer sebagai media perpustakaan digital.
4.            Balai kesehatan santri dan masyarakat.
5.            Perumahan guru
6.            Gedung olahraga, dan lain-lain
Alhamdulillah, usaha tercapainya hajat-hajat tersebut telah berjalan meski belum lancar, dan baru beberapa bangunan saja yang dapat dilaksanakan.
Mudah-mudahan dengan doa dan bantuan dari semua pihak, terlaksanalah apa yang dihajatkan Pondok Pesantren Modern As-Salam. Kami selalu berdoa semoga Allah memberi kesadaran kepada para pemegang kunci perbendaharaan untuk pembangunan ini, baik dari pihak pemerintah atau para dermawan.
4. Perluasan Khizanatullah (Wakaf)
Suatu syarat yang terpenting dan mutlak untuk kebesaran dan kelangsungan lembaga pendidikan adalah: “memiliki sumber-sumber pendapatan sendiri.”
Dengan hanya mengharapkan atau menggantungkan sokongan yang tiada tentu masuknya, baik dari pemerintah atau dari mana saja datangnya, keselamatan usaha tersebut ke depannya kurang terjamin. Hidupnya akan seperti baling-baling di atas batu, hidup enggan, mati tak mau.
Kesanggupan hidup dan kelanjutan usaha Universitas Al-Azhar di Mesir, Alighar di India, disebabkan adanya Badan Wakaf. Kedua universitas ini dapat hidup dengan pesatnya karena wakaf para dermawan, zakat, dari perseorangan atau dari perseroan-perseroan dagang.
Pondok Pesantren Modern As-Salam telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh akan hal ini, sejak berdirinya sampai dengan saat ini telah melalui beberapa macam usaha. Untuk itu, ke depan kita akan membentuk badan khusus yang mengurusi soal ini bernama khizanah yang bertujuan mempeluas wakaf.
Khizanatullah berbentuk Badan Wakaf yang dapat menggali sumber pendanaan yang cukup untuk membiayai Pondok Pesantren Modern As-Salam dengan mewujudkan sawah, ladang, perkebunan, dan lain-lain atau amal yang berupa uang ataupun apa saja yang akhirnya dapat diwujudkan menjadi sawah atau perkebunan dan lain-lain.
Ini menjadi perhatian besar pengasuh Pondok Pesantren Modern As-Salam karena mengingat:
a.            Jangka Pondok Pesantren Modern As-Salam selanjutnya
b.            Pentingnya Pondok Pesantren Modern As-Salam bagi masyarakat dan umat di Indonesia.
c.             Hasil-hasil yang telah dicapai beserta kedudukannya di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.
Oleh sebab itu, usaha memperbesar khizanah ini terus berjalan dan dikerjakan. Pintu khizanah terus dibuka untuk menerima sumbangan para dermawan yang berupa wajib atau yang bersifat sunnah.
Bukti sokongan kepada Pondok Pesantren Modern As-Salam insya Allah dapat dilihat dengan mata, dirasakan dengan panca indera.
5. Kesejahteraan Keluarga Pondok
Langkah ini merupakan masalah keluarga atau “kesejahteraan keluarga” yang menghajatkan perhatian khusus.
Maksudnya, agar para pendukung, para pembela dan yang akan langsung bertanggung jawab terhadap hidup matinya Pondok Pesantren Modern As-Salam seterusnya tidak menggantungkan penghidupannya kepada Pondok Pesantren Modern As-Salam.
Mereka itu hendaknya dapat berusaha sendiri, bahkan hendaknya mereka dapat memberi penghidupan kepada Pondok Pesantren Modern As-Salam, dan jangan minta dihidupi oleh Pondok Pesantren Modern As-Salam.
Semoga Allah selalu meridhai dan memudahkan usaha dan niat baik ini. Amin.

Blueprint Pengembangan PPM As-Salam Mojokerto












Maket Perpustakaan PPM As-Salam

















Maket Asrama Putri PPM As-Salam








Maket MA Grafika As-Salam







KH Hasan Abdullah Sahal Meresmikan Masjid Nurus Salam




Di Pondok Pesantren Modern As-Salam Mojokerto
“Menjalin Tali Ukhuwah Lillah”
Rabu pagi (29/11), keluarga besar Pondok Pesantren Modern As-Salam Mojokerto tampak sibuk mempersiapkan kegiatan. Tak hanya santri dan guru yang hadir, tampak juga para alumni Gontor yang tergabung dalam IKPM Mojokerto dan sekitarnya, santri Gontor yang sedang libur pertengahan tahun, wali santri Gontor, dan masyarakat sekitar Pondok Pesantren Modern As-Salam.
Ya, pagi itu mereka akan menyambut kedatangan KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Bukan tanpa alasan, kedatangan beliau kali ini untuk meresmikan Masjid Nurus Salam sebagai pusat kegiatan ubudiyah santri Pondok Pesantren Modern As-Salam Mojokerto.
Selain acara peresmian masjid, kegiatan ini sekaligus untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H. Setiap tahunnya Pondok Pesantren Modern As-Salam memang mengadakan acara pengajian Maulid Nabi untuk masyarakat sekitar. Kebetulan tahun ini diserentakkan dengan acara peresmian masjid. Semua guyup seolah menjadi ajang silaturahim.
Tepat kiranya pada acara Peresmian Masjid Nurus Salam dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H ini mengambil tema “Menjalin Tali Ukhuwah Lillah” mengutip surah al-Hujurat (49) ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Karena itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ustad Chabib Ahmad Ghozali, SE selaku Pimpinan Pondok Pesantren Modern As-Salam dalam sambutannya menyampaikan sejarah singkat kenapa masjid itu diberi nama “Nurus Salam”. “Dulu, sebelum Pesantren As-Salam ini berdiri, ada surau bernama An-Nur di sini, nama itu kemudian digabungkan dengan nama As-Salam sehingga menjadi Nurus Salam,” ujarnya.
Selain itu Ustad Chabib juga menyampaikan estafet pembangunan pondok, yakni menambah sarana gedung kelas MA Grafika As-Salam. “Saat ini anak-anak masih menempati kelas darurat. Karena itu, gedung kelas ini menjadi kebutuhan urgen,” kata Ustad Chabib.
Program grafika ini mendapat perhatian khusus di Pesantren As-Salam, yakni fokus di literasi dan desain grafis. Mata pelajaran penulisan, penyuntingan, penerjemahan, dan desain grafis diajarkan secara formal di dalam kelas. Tak hanya itu, santri juga belajar jurnalistik dan sudah menelurkan Majalah As-Salam.
Kalau Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang saat ini populer di sekolah, yakni membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, di Pondok Pesantren Modern As-Salam justru santri sudah belajar menulis, menyunting dan menerjemahkan naskah. Bahkan, setiap hari Jumat malam ada bedah buku yang dikelola santri secara mandiri.
Sementara itu, KH Hasan Abdullah Sahal (Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo) dalam sambutannya mengatakan, Pesantren As-Salam ini punya hubungan yang erat dengan Gontor. Pendirinya KH Abbas Nawawi, KH Abdullah Nawawi, dan KH Syuaib Nawawi, bisa dibilang Trimurti As-Salam, ketiganya merupakan alumni Gontor, murid Trimurti Pendiri Pondok Modern Gontor.
Uniknya, ketiga-tiganya yang secara bergantian menjadi penanggung jawab dapur KH Ahmad Sahal semasa beliau masih hidup. Uniknya lagi, kalau di Gontor yang wafat duluan KH Zainuddin Fananie, yang tengah-tengah, pun demikian di As-Salam, yakni KH Abdullah Nawawi.
Khusus berkaitan dengan peresmian masjid, Kiai Hasan menyampaikan, pesantren adalah benteng terakhir rakyat dalam melawan penjajah. Kalau dalam masa perang dulu pesantren sebagai benteng dan markas para gerilyawan, di era pasca kemerdekaan ini pesantren berperan sebagai benteng akidah, akhlak dan moral masyarakat. Inilah sumbangsih terbesar pondok pesantren terhadap bangsa. “Karena itu, pesantren sejak dulu hingga kini tetap anti penjajah dan penjajahan,” ujar Kiai Hasan.
Santri dididik sebagai munzhirul qaum, yakni memberi peringatan kepada umat agar tidak kebablasan. Mereka inilah para penjaga akidah, akhlak, dan moral umat di masa depan. “Karena itu, pesantren perlu dibela, dibantu, dan diperjuangkan. Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan,” kata Kiai Hasan.
Sebagai acara puncak, yakni Hikmah Maulid Nabi, disampaikan oleh KH Fathurrohaman (Pengasuh Pesantren Miftahus Syariah Mojokerto). Kiai Fathur mempertajam apa yang disampaikan oleh Kiai Hasan bahwa bicara tentang pesantren berarti bicara tentang masjid. Bicara tentang masjid berarti bicara tentang kurikulum shalat.
Sebelum shalat, kita diwajibkan untuk berwudhu. Memang dalam wudhu secara lahiriah yang disucikan itu mulut, hidung, wajah, tangan, rambut, telinga dan kaki. “Secara batiniah itu berarti kita harus bersuci dari ucapan, penciuman, penglihatan, pendengaran, pikiran dan tindakan,” ujar Kiai Fathur.
Dalam ceramah yang disampaikan dalam bahasa Jawa khas Pesantren Salaf itu, Kiai Fathur mengutip Surah al-Ankabut (29) ayat 45, “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Perbuatan keji itu kaitannya dengan diri, sedangkan mungkar berkaitan dengan orang lain.
Keji dan mungkar itu sudah mencakup semuanya. Kalau shalat tidak memberi efek perubahan dalam diri seseorang, berarti shalatnya perlu dipertanyakan. Artinya, selama ini kita baru menguasai ilmu shalat, tapi kehidupan kita belum dikuasai oleh shalat. “Kehidupan kita ini harus dikuasai oleh agama, bukan menguasai agama,” ujar Kiai Fathur.
Ringkasnya, ritual shalat memang wajibnya dilakukan lima kali dalam sehari semalam. Namun, praktik shalat itu hadir dalam semua lini kehidupan umat Islam. “Saat ini banyak sekali orang yang pintar dan mengerti tentang agama, tapi perilaku dan akhlaknya tidak mencerminkan keteduhan dan kedamaian,” tandas Kiai Fathur.
Sejak zaman Rasulullah, masjid memang menjadi pusat perubahan dan pergerakan, pusat penyucian jiwa dari penyakit hati dan pusat kegiatan membangun peradaban Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Demikian pula dengan para walisanga, dan tradisi itu diteruskan pondok pesantren hingga kini.
Acara Peresmian Masjid Nurus dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H di Pondok Pesantren Modern As-Salam Mojokerto ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Syuaib Nawawi, dan shalat Zuhur berjamaah yang dipimpin oleh KH Hasan Abdullah Sahal.